Select Menu

Ads

AYO DI ORDER

CINTA SEDERHANA ~ KUMPULAN PUISI

CINTA SEDERHANA ~ Kumpulan Puisi ~ Penulis: Khanis Selasih & Al Hibasyhi Purnama Cetakan 1: Januari 2014 Cetakan 2: April 2015 Harg...

Popular Posts

Random Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

INILAH CINTA

Technology

Circle Gallery

Shooting

Racing

News

Bottom

» » BEDAH BUKU - KOKOP, BANGKALAN MADURA

BEDAH BUKU Di ATAS GUNUNG KAPUR
(Desa Kokop - Bangkalan Madura - Jatim)

Surabaya-Blega-Kokop Bangkalan Madura
Rabu, 5 April 2017

          Hari masih begitu pagi. Namun beberapa persiapan inventaris untuk bedah buku sudah kulakukan sejak semalam. Semua harus terperinci dengan baik dan telah masuk ke dalam tas yang akan kupakai pagi ini. Tepat pukul 05.30 WIB, aku berangkat menuju lokasi undangan bedah buku di SDN 1 Kokop - Bangkalan Madura.

          Melewati Jembatan Suramadu diantar suami tercinta, Kangmas Herman. Ikut bersama kami putra ragil, Adik Dafal. Udara masih terasa segar di sepanjang jalan Suramadu. Jalanan juga masih lengang. Aktivitas penduduk Kota Surabaya belum seberapa padat. 

           Turun dari Jembatan Suramadu, cuaca mulai panas meskipun hari masih termasuk pagi (sekitar pukul 07.00 WIB. Menjelang Desa Blega - Bangkalan, jalanan memadat karena aktivitas warga Bangkalan Madura mulai ramai. Petunjuk yang kuterima, ada seseorang yang harus kujemput di Polsek Blega. Beliau bernama Pak Wahid, yang selanjutnya menjadi penunjuk jalan menuju arah lokasi bedah buku. Aku sangat bersyukur ada Pak Wahid bersama kami. Beliau sangat membantu kami yang sama sekali awam daerah Madura. Apalagi di luar dugaan jalanan yang dilalui berkelok-kelok, menanjak tajam, dan curam. Mengerikan, aku berkali-kali mengucap basmallah, istighfar, hamdalah, dan teriakan karena kaget. Sport jantung deh, pokoknya waktu itu. Alhamdulillah kami sampai di lokasi dengan selamat. Ternyata acara bedah buku dilaksanakan di atas Gunung Kapur Desa Kokop - Bangkalan Madura. Ada yang mengatakan di puncak bukit, namun kata Pak Wahid, itu gunung kapur. 

           Ini undangan terjauh yang aku sanggupi untuk datang sebagai narasumber. Undangan kuterima dari sahabat yang kukenal di Facebook. Beliau Dr. Ali Nurhadi, S.Pd; M.Pd dan Sayadi, SE. Acara ini membedah buku karya Dr. Ali Nurhadi, S.Pd; M.Pd yang berjudul "PROFESI KEGURUAN" yang aku (Khanis Selasih) sebagai editornya. Suatu kehormatan yang membahagiakan diundang sebagai narasumber di antara dua narasumber lainnya yaitu: Dr. Muhammad Saidi, M.Pd; MM dan M. Amirusi, S.Pd; M.Pd. Mereka berdua orang-orang yang hebat di bidang penulisan selain bidang utamanya sebagai pendidik (dosen)

              Acara yang dimotori oleh Mas Sayadi ini, dihadiri oleh sekitar 200 undangan para guru semadura. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dan sukses. Selain sebagai narasumber, aku juga sebagai pemateri workshop penulisan fiksi. Antusias para undangan sungguh memantik semangat untuk berkarya. Bahkan waktu yang telah disediakan panitia menjadi molor dari semustinya.

           Tentang bedah bukunya sendiri, aku sangat kagum pada Mas Ali - begitu biasa kupanggil Dr. Ali Nurhadi, S Pd; M.Pd. Beliau begitu gigih membina para guru di daerah terpencil seperti SDN 1 Kokop dan sekolah-sekolah lain di sekitarnya. Tidak hanya membina dalam "Teks verbal" saja. Akan tetapi juga membina dalam "Real workshop".

           Hebatnya, semua pelatihan, pembinaan, dan pemberian apresiasi baik kepada guru, murid, warga sekolah, hingga penduduk di sekitar sekolah tersebut diaplikasikan oleh Mas Ali dalam sebuah buku yang berjudul "PROFESI KEGURUAN" dengan sub-judulnya "Menuju Pembentukan Guru Profesional".

            Acara yang seharusnya berakhir pukul 14.00 WIB, menjadi molor hingga berakhir pada pukul 16.00 WIB. Pada pukul itulah, aku kembali menuju Surabaya, tentunya masih ditemani oleh Pak Wahid sebagai penunjuk jalan ke luar dari Desa Kokop hingga sampai di Desa Blega.

            Kejadian lucu yang tidak terlupakan, saat Kangmas (Suami) ke luar dari pintu gerbang SDN 1 Kokop. Mobil Ranger (Pajero Sport) yang dibawanya memang sangatlah besar dan panjang. Sejak awal datang sudah membuat susah untuk parkir. Meskipun akhirnya bisa terparkir dengan sempurna yang melibatkan bantuan banyak orang. Begitupun saat pulang. Bantuan orang-orang sekitar tetap diperlukan untuk memandu mobil ke luar dari pintu gerbang sekolah yang berpagar kayu. Berhasil ke luar dengan manis, Kangmas pun mengucapkan terima kasih dalam bahasa Jawa, "Matursuwun" dan menyampaikan kata, "Monggo ..." sebagai sapaan terakhir dalam bahasa Jawa. Padahal kami sedang berada di Kepulauan Madura di daerah terpencil, yang penduduknya tidak bisa bahasa Jawa. Mereka hanya bisa berbahasa Madura. 

            Lalu di sepanjang jalan yang menikung dan sempit, setiap bertemu penduduk yang berjajar, Kangmas pun mengucap, "Monggo ..." sembari tersenyum simpul dan itu terjadi berulang kali. Aku ikut tersenyum karena geli melihat Kangmas yang begitu PD (Percaya Diri). Dia lupa kalau kami tidak di Surabaya yang menggunakan bahasa Jawa. Madura punya bahasa sendiri yang jauh berbeda dengan bahasa Jawa.

             "Ini Madura, Sayang ... mereka tidak tahu kata monggo. Hahaha ..." kataku sembari tertawa lepas. 

            Pak Wahid yang asli Madura ikutan tertawa. Dafal sampai terpingkal-pingkal melihat aksi dan ekspresi papanya yang sok tahu itu.

            "Kalau di sini, monggo itu glenon, Pak ..." kata Pak Wahid memberi tahu.

            Namun Kangmas tetap saja menyapa orang-orang Madura yang kami temui dengan kata sapaan, "Monggo ..."

            Pak Wahid turun di Blega, seperti awal kami menjemputnya. Begitu di dalam mobil tanpa Pak Wahid, Kangmas angkat bicara.

           "Monggo dalam bahasa Madura kok glenuk ya ... itukan kalau bahasa Jawa artinya semok, bohay gitu. Kayak Mama kamu, Dik ... glenak glenuk. Hahaha ..." kata Kangmas tergelak tawanya. Aku dan Dafal ikut tertawa.

           "Bukan glenuk, Mas ... tapi glenon! Pikiran Mas kok ngeres," ucapku dengan tawa.

           "Ooo ... glenon toh? Dengarku glenuk, jadi aku ya tetap aja bilang monggo. Mau ngomong glenuk kok lihat kamu, Dik ... pingin ngakak. Tapi kan tidak enak ada Pak Wahid masih bersama kita," Kangmas menjelaskan, dan lagi-lagi kita tertawa.

           Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat sekitar pukul 20.00 WIB. Di penghujung Madura sebelum naik ke Jembatan Suramadu, kusempatkan membeli oleh-oleh yang dijual di pinggir jalan.

          Terima kasih Mas Ali dan Mas Sayadi yang telah mengundangku ke Kokop - Bangkalan Madura. Di sana banyak hal berharga yang aku dapat. Silaturahim, ukhuwah Islamiyah yang kental, persaudaraan, persahabatan, dan ibrah yang sangat bermanfaat untuk umat, khususnya para guru. Semoga senantiasa mendapat barokah dari-Nya. Aamiin ...

          

              

             

About Unknown

WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
«
Next
This is the most recent post.
»
Previous
Posting Lama

2 komentar

  1. Hahahaha. Lucu. Mantap dah (y) :)

    BalasHapus
  2. Siiip smoga menjadi inspirasi guru desa untuk terus berkarya... Insyaallah sebentar lagi aku tinggalkan untuk tugas dinas berikutnya di STAIN

    BalasHapus